Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Februari 2015

Desember

                                      
            Kutelan ludahku sendiri. Berdiri di hadapannya. Diam terpaku. Saling menatap dan mencari kalimat yang tepat untuk waktu yang cukup lama. Tak lagi kulihat sorotan sinar di bola matanya. Senyum tulus itu kini telah hilang. Temaram lampu cafe menyinari sebagian wajahnya yang masih tampan seperti dulu. Namun, kemeja yang lengannya digulung hingga siku, celana skinny jeans yang sangat pas di kakinya, rambutnya yang disisir rapi belah samping, juga kacamata minus yang bertengger di atas hidung mancungnya, itu benar-benar membuat penampilannya jauh berbeda dari saat terakhir kali aku melihatnya.

Selasa, 04 November 2014

Mimpi Sang Pendaki



“Tapi, Ma, Mas Rio saja boleh, kenapa aku enggak?”
            Aku merengek bagai anak kecil yang minta dibelikan mainan. Merajuk, menarik-narik tangan mama dan memaksanya untuk memberi ijin atas kegiatan apa yang ingin aku kerjakan. Sudah dua hari tak henti-hentinya aku memohon, namun mama masih tetap pada pendiriannya. Ia ngotot tidak memberikan ijin padaku.
            “Sudahlah, Ma. Biarkan Eka meneruskan hobi Papa”. Papa datang dari teras depan dengan sebuah koran yang terlipat di tangannya, kemudian duduk di sebelah mama.
            “Tapi Pa,

Rabu, 12 Maret 2014

16 Love



“Mel, gue suka nih sama cewek. Tapi dia cuek banget sama gue. Terus gue mesti gimana, ya? Padahal gue hari ini berencana nembak dia.” Mata Gerry tak lepas memandang sosok sahabat di depannya. Ia tengah beradu pandang dengan sosok gadis yang selalu menemaninya. Gadis cantik-baik hati yang mengacak-acak hatinya.  Sekilas ia tersenyum pada Imel. Imel yang tengah menahan kantuk seusai jam sekolah.

                 Seperti biasa, Imel dan Gerry duduk di meja kantin paling pojok nomor 16. Dua gelas es teh menemani keduanya. Suasana kantin kali ini tampak