Kutelan
ludahku sendiri. Berdiri di hadapannya. Diam terpaku. Saling menatap dan
mencari kalimat yang tepat untuk waktu yang cukup lama. Tak lagi kulihat
sorotan sinar di bola matanya. Senyum tulus itu kini telah hilang. Temaram
lampu cafe menyinari sebagian wajahnya yang masih tampan seperti dulu. Namun,
kemeja yang lengannya digulung hingga siku, celana skinny jeans yang sangat pas
di kakinya, rambutnya yang disisir rapi belah samping, juga kacamata minus yang
bertengger di atas hidung mancungnya, itu benar-benar membuat penampilannya
jauh berbeda dari saat terakhir kali aku melihatnya.
