Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Mei 2015

Cemburu


Diam dalam sunyi
Tenggelam dalam kekecewaan di hati
Terulang kembali memori yang telah lalu
Kala hati menjerit parau
Saat jiwa terkoyak mendayu pilu
Mengintip menyaksikanmu dari jauh
Duduk berdua dengan seorang wanita
Bercerita di bawah rengkuhan beringin
Bergurau di atas pangkuan bangku taman

Sabtu, 09 Mei 2015

Hujan




Apa yang kau sukai dari hujan?
Suara gemeretaknya di genteng rumahmu?
Atau mendung yang romantis?
Atau mungkin kau suka bagaimana air runtuh
Dari langit dan pecah di tanah?
Bagaimana kalau biasan sinar matahari?
Yang menjadikan tetes hujan seperti berlian?

Sabtu, 25 April 2015

Pengagum




Tatapanmu api; aku panas terbakar
Tatatpanmu samudera;  aku hanyut tenggelam
Tatapanmu jurang; aku jatuh terperosok
Tatapanmu anggur;

Selasa, 21 April 2015

Perempuan Tua





Lihat perempuan tua itu!
Berjalan tertatih di tepian jalan raya
Mata rabunnya seolah berkata
“Wahai engkau anak-anak manusia
Dimana hati nuranimu?”

Lihat sekitarnya!
Kendaraan yang melaju sombong
Tak satupun paham dan mau menolong

Rabu, 07 Januari 2015

Seperti Inilah Aku Mencintaimu



Ada kekasih yang membuktikan cintanya
Dengan jutaan kalimat, pujian, rayuan
Ada pula dengan sikap nan penuh kasih
Pengorbanan yang meluluh lantakkan harga diri
Atau pengurasan tenaga dan materi

Minggu, 14 September 2014

Hujan dan Kelingking



Pada awalnya kita dekat
Kau bergurau dan tertawa bersamaku
Hayalan-hayalan konyol
Lontaran cerita konyol
Membuatku tertawa hingga sakit di perutku
Masih ingatkah, kau?
Sore itu aku kau ajak bermain
Berlari di bawah hujan yang mengguyur
Sesekali pelukanmu menghangatkan
Saat petir datang dan menyambar
Lalu, bukankah kau juga maaih ingat?
Saat itu kita sebatas sahabat
Kita hanyalah teman dekat
Saling menautkan jari kelingking
Menjaga rahasia satu sama lain
Namun, entah kenapa
Kaitan kelingking itu mulai lepas
Gandengan tangan mulai hilang
Pelukan hangat sudah merenggang
Hingga tawa pun tak pernah terdengar
Saat itu pula
Kau bilang, kau jujur padaku
Mengenai suatu perasaan
Tentang anak Adam yang sedang jatuh cinta
Tentang jantung yang berdetak lebih keras
Kini, genggaman itu terasa kembali
Buket mawar suci di tangan kirimu
Lalu, gitar, lagu, puisi
Kau mainkan untukku, kau bacakan untukku
Semua kau persembahkan untukku
Apa kau berpikir aku juga mencintaimu?
Apa kau kira aku senang dengan seperti ini?
Tidak!
Aku tidak bisa memutus persahabatan ini
Tak peduli apa kau sendiri yang sudah tak menganggapnya
Dan disinilah
Kau pergi meninggalkanku begitu saja
Kau lemah! Sangat lemah!
Dimana pelukanmu saat hujan ini kembali datang?
Sungguh, aku merindukannya, aku menginginkannya

Sabtu, 15 Maret 2014

Jika



Jika aku tahu seperti apa itu cinta
Mungkin aku tak akan mencoba
Aku akan menjaga
Sesuatu  yang membuatku terluka
Takkan pernah ada

Jika aku tahu bagaimana itu cinta
Aku yakin tak ada sayatan...
Tak ada goresan...
Luka yang membuat hatiku sakit

Jika ada mata pelajaran tentang cinta
Mungkin akan kumasuki sekolahnya
Akan kucari rumusnya
Kutanyaka pada gurunya
Kepala sekolahnya
Kakak kelasnya
Bagaimana cara menaklukannya

Namun aku biasa, manusia bias
Aku tak berhak menentukan siapa yang harus mencintaiku
Aku tak bisa memilih pada siapa aku jatuh cinta
Hanya menunggu
Seorang malaikat pembawa cinta
Menjemput pada akhir penantianku